Lelaki dan Jalan Sunyi #3


Serban Debu dan Nyanyian Batu

(Dok. Tugu Jogja 2029)

Ia berjalan, dengan serban yang tak lagi putih, melainkan abu dari aspal yang mengajar tentang sabar yang tak bersuara.

Di matanya, batu-batu jalan tak sekadar keras, mereka bernyanyi lirih, tentang luka, tentang tapak, tentang tubuh-tubuh yang direbahkan waktu.

"Setiap debu yang menempel di tubuhku, katanya, adalah saksi perjalanan menuju-Nya. Aku tidak kotor, hanya sedang mendekat."

Di bawah terik surya dan hujan membasahi tanah, ia tak berteduh, karena ia tahu; payung sejati adalah keyakinan.

Batu yang diinjaknya berbicara, "Kau tak sendirian, wahai lelaki sunyi, kami pun pernah dilempar ke kepala nabi."

Dan serban itu, meski tak lagi harum, menyimpan keringat doa, yang tak dijual di toko parfum, hanya dicium angin, dan dikenali langit.

Maka ia terus berjalan, dengan kepala terbungkus debu, dan hati yang bersih seperti air dari mata air Batu Kliang.

Titimangsa: Sendin Kokok Medas, 08 Juni 2025

Komentar