Jejak Cerita Menuju Istana Negara Pada HUT RI Ke 80
Dari tanah yang berakar pada kearifan, dari pulau-pulau yang disatukan oleh laut biru dan gunung yang menjulang, lahirlah semangat anak-anak muda Nusa Tenggara Barat. Dalam waktu yang singkat, mereka ditempa bukan hanya oleh gerak tari, tetapi juga oleh rasa tanggung jawab—bahwa langkah kaki dan ayunan tangan mereka akan mewakili suara daerah, di hadapan merah putih yang berkibar di langit Istana Negara.
Proses itu bukanlah jalan mudah. Hanya hitungan hari, mereka harus merajut kekompakan, merangkai harmoni, dan menyatukan napas dalam satu irama. Perubahan mendadak dari kurator istana tak membuat mereka gentar. Justru, di situlah jiwa mereka ditempa: kesabaran diuji, semangat diuangkan dalam disiplin, dan kebersamaan dijaga agar tak ada yang runtuh di tengah perjalanan.
Setiap malam sebelum keberangkatan, tubuh-tubuh muda itu menari bersama dengan keringat yang jatuh seperti doa. Mereka tahu, lebih dari sekadar tarian, inilah wujud cinta pada tanah kelahiran, pada NTB yang ingin mereka kenalkan di panggung kebangsaan.
Dan ketika tiba hari itu—di Istana Negara, di perayaan ulang tahun ke-80 Republik Indonesia—218 jiwa berpadu menjadi satu tarian kolosal. Mereka bukan lagi sekadar penari, melainkan utusan budaya. Gerak mereka adalah suara leluhur, hentak kaki mereka adalah denyut bumi Sasambo, senyum mereka adalah harapan akan masa depan yang tak akan melupakan akar tradisi.
Mereka hadir bukan hanya untuk tampil, tetapi untuk membuktikan: bahwa dari pelosok Nusantara, NTB berdiri sejajar, gagah, dan membanggakan. Bahwa generasi muda bisa menjadikan seni bukan hanya tontonan, melainkan persembahan—untuk bangsa, untuk negeri, untuk merah putih yang terus berkibar abadi.
Aku bersyukur dapat menjadi bagian dan saksi dalam cerita ini.
18 Agustus 2025
Titimangsa: Istana Negara RI, Jakarta
Komentar
Posting Komentar