Tari Kolosal Tembolak Beak: Representasi Identitas Kultural Sasambo dalam Bingkai Persatuan Gumi Gora
Tari Kolosal Tembolak Beak: Representasi Identitas Kultural Sasambo dalam Bingkai Persatuan Gumi Gora
Dok. Penari Kolosal Tembolak Beak Di Istana Negara Jakarta
Karya tari kolosal Tembolak Beak bertajuk The Spirit of Sasambo yang digarap oleh koreografer L. Surya dengan melibatkan 210 penari dari kalangan pelajar, komunitas seni, dan sanggar tari di Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan manifestasi artistik yang memadukan seni pertunjukan dengan narasi persatuan etnis. NTB, atau yang dikenal sebagai Gumi Gora, dihuni oleh tiga etnis utama: Sasak, Samawa, dan Mbojo, yang dikenal dengan akronim Sasambo. Tarian kolosal ini tampil bukan hanya sebagai hiburan estetis, tetapi juga sebagai strategi kebudayaan yang mengartikulasikan pluralitas menuju identitas kolektif.
Dok. Penari Kolosal Tembolak Beak
Dalam analisis semiotik, karya ini menghadirkan tanda-tanda budaya yang dapat dibaca sebagai representasi simbolik dari masing-masing etnis. Gendang Belek dari tradisi Sasak, misalnya, bukan sekadar instrumen musik pengiring, melainkan penanda semangat juang dan energi komunal. Tembolak Beak sebagai warisan masyarakat Sasak. Tembolak Beak menunjukkan semangat gotong royong dan kebersamaan untuk memupuk, merawat, dan memelihara tradisi leluhur. Peresean, ritual duel tradisional Sasak, dihadirkan dalam bentuk estetis untuk menegaskan nilai keberanian dan sportivitas, sementara Rimpu, busana khas perempuan Bima, dimaknai sebagai representasi kehormatan, religiositas, dan identitas perempuan Mbojo. Sementara Tari Lupe menggambarkan kerja keras dan rasa syukur masyarakat Suku Donggo di Bima terhadap alam, dengan gerakan yang terinspirasi dari aktivitas petani sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan. Ini juga Keterampilan para pengrajin Lupe, yang membuat "Lupe" (payung khas dari daun pandan) menjadi bagian dari nilai seni dan kerajinan yang tinggi dalam tarian ini. Kelima unsur ini dipertemukan dalam satu konstruksi koreografis yang menegaskan interaksi simbolik antarbudaya.
Dok. Penari Kolosal Gendang Belek
Ada yang menarik dalam tari kolosal ini, yaitu kehadiran Tari Rudat dalam Tari Kolosal Tembolak Beak bertajuk The Spirit of Sasambo memperkaya dimensi estetika sekaligus makna pertunjukan. Tari Rudat, yang berakar pada tradisi Islam di Lombok, memiliki karakteristik gerak yang tegas, ritmis, dan penuh energi, biasanya ditarikan secara berkelompok dengan pola yang menunjukkan kebersamaan dan kedisiplinan. Secara historis, Rudat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media dakwah dan sarana internalisasi nilai-nilai religius di tengah masyarakat Sasak (Zuhdi, 2010; Alhabshi, 2018).
Dalam konteks Tari Kolosal Tembolak Beak, Rudat hadir sebagai simbol penting yang merepresentasikan pengaruh Islam dalam kebudayaan NTB. Jika Gendang Belek menandai semangat juang, Tembolak Beak menggambarkan vitalitas masyarakat Sasak, Peresean menunjukkan keberanian, Rimpu dan Lupe menghadirkan identitas Mbojo, maka Rudat menjadi jembatan religius yang menghubungkan tradisi dengan nilai spiritual. Dengan demikian, kehadiran Rudat melengkapi spektrum identitas Sasambo yang tidak hanya berbasis etnis, tetapi juga berbasis nilai-nilai keagamaan.
Secara etnokoreologis (Kaeppler, 1978), penyertaan Rudat dalam tari kolosal ini memperlihatkan bagaimana tari berfungsi sebagai media integrasi sosial dan religius. Rudat tidak diposisikan sebagai elemen asing, melainkan diintegrasikan ke dalam koreografi kolosal sehingga tercipta dialektika antara tradisi lokal dan spiritualitas Islam. Hal ini mempertegas pandangan Hobsbawm & Ranger (1983) tentang invented tradition, di mana tradisi yang berbeda dapat dipadukan untuk membentuk narasi baru yang merepresentasikan identitas kolektif.
Dok. Penari Kolosal Rudat
Dengan melibatkan 210 penari, kehadiran Rudat dalam karya ini juga menjadi sarana edukasi budaya dan religius bagi generasi muda. Mereka tidak hanya belajar tentang seni tari sebagai ekspresi estetis, tetapi juga memahami bahwa di balik setiap gerak tersimpan nilai-nilai moral, kebersamaan, dan keimanan. Dengan demikian, integrasi Tari Rudat dalam Tari Kolosal The Spirit of Sasambo tidak hanya memperkaya bentuk pertunjukan, tetapi juga memperkuat fungsi sosial-budaya tari sebagai wahana persatuan, pendidikan, dan penguatan identitas kultural Sasambo.
Lebih jauh, Koentjaraningrat (1985) menyebutkan bahwa kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang dipelajari dalam kehidupan masyarakat. Tari kolosal ini menjadi contoh nyata bagaimana gagasan tentang persatuan Sasambo diwujudkan dalam tindakan kolektif (koreografi dan pertunjukan), serta hasil karya budaya (tari kolosal) yang dapat diwariskan lintas generasi.
Dok. Penari Kolosal Peresean
Keterlibatan ratusan penari juga menguatkan pandangan Soedarsono (2002) bahwa tari tradisi maupun kontemporer di Indonesia sering kali berfungsi sebagai sarana edukasi budaya dan media internalisasi nilai-nilai sosial. Melalui partisipasi generasi muda dalam karya ini, terjadi proses transmisi budaya yang memungkinkan keberlangsungan tradisi dalam bentuk yang kontekstual. Selain itu, dari perspektif Hobsbawm dan Ranger (1983) tentang invented tradition, karya ini dapat dibaca sebagai penciptaan tradisi baru yang menggabungkan unsur-unsur etnis ke dalam bentuk kolosal modern, namun tetap bertujuan memperkuat identitas kolektif. The Spirit of Sasambo bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga strategi kultural untuk mengartikulasikan persatuan dalam keberagaman.
Dok. Penari Kolosal Rimpu
Dengan demikian, Tari Kolosal Tembolak Beak bertajuk The Spirit of Sasambo dapat dipahami sebagai representasi identitas kultural sekaligus praktik sosial yang menegaskan nilai-nilai persatuan, kebanggaan etnis, dan keberlanjutan tradisi di tengah modernitas. Sebagaimana ditegaskan oleh Geertz (1973) bahwa simbol-simbol budaya adalah cara masyarakat menafsirkan dunia dan dirinya. Maka karya ini adalah simbol nyata dari upaya masyarakat NTB untuk meneguhkan identitas Sasambo dalam bingkai kebersamaan. (01/09/2025)
Dok. Penari Kolosal Lupe
Dok. Penari Kolosal Gendang Beleq
Penulis Akmal
Penggiat Seni Pertunjukan
Penggiat Seni Pertunjukan
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)



Komentar
Posting Komentar