Lawu Tak Sampai

Berawal dari seb

uah janji hendak mendaki gunung Lawu bersama semeton dari Cilegon, Banten. Kami berjanji kan mendaki Gunung Lawu bersama pada pertengahan Februari lalu.

Setiba tiang di Karang Pandan, Solo Timur. Tiangpun menghubungi semeton tiang Popon. Salah satu mahasiswa di ISI Sola yang kebetulan juga senang mendaki. Sebelumnya kami bertemu di Lombok disaat semeton Popon hendak mendaki gunung Rinjani. Tiangpun mengantarkan semeton Popon mendaki rinjani kala itu.

Setelah bebrapa kali chat dengan semeton Popon kamipun sepakat untuk bertemu di Karang Pandan. Waktu itu tepat pada tgl 19/02/18 kami bertemu. Sembari tiang coba terus menghubungi semeton yg dari Cilegon yang katanya juga sudah sampai di Karang Pandan. Tetapi di luar dugaan. Setelah chat terakhir kami itu. Semeton ini hilang kabar. Padahal sebelumnya kami sudah janjian semenjak tiang masih di Lombok. Selama perjalanan tiang dari Lombok menuju Surabaya-Ponorogo-Karang Anyar. Ya sudahlah mungkin kami belum mendapat izin dari Sang Pencipta untuk mendaki Gunung Lawu bersama.

Akhirnya tiang dengan semeton Popon sepakat berangkat malam itu juga menuju Jalur Pendakian Cemoro Sewu. Setelah merasa persiapan cukuk. Kami berangkat menggunakan sepeda motornya semeton Popon. Sekitar jam 10 malam kami menerobos dinginnya jalanan Karang Pandan-Cemoro Sewo. Kami berniat kan mendaki Gunung Lawu PP alias Tektok.

Sekitar Jam 01.00 dini hari kami tiba di pintu pendakian Cemoro Sewu. Setelah kami parkir motor dan berkemas serta mengisi buku regestrasi. Kami pun bergegas untuk melakukan pendakian. Oh iya di basecamp Cemoro Sewu kami juga bertemu dengan beberapa pendaki yang akan melakukan pendakian esok pagi.

Setelah Pamitan kepada semeton pendaki yang kami temukan di basecamp. Tiang & semeton Popon merdo'a agar sebelum memasuki pintu pendakian. Agar pendakian kami bisa berjalan sesuai rencana.

Perlahan tiang & semeton Popon menyusuri jalur pendakian cemoro sewu. Hanya kami berdua dini hari itu yang melakukan pendakian. Perlahan nan pasti kami menembus gelap dan dinginnya Gunung Lawu. Kami sempatkan mengobrol di sela-sela langkah kaki kami. Hanya  senter kami yang menerangi jalur setapaj itu.

Tak terasa pula ternyata kami samapai di Pos 2. Semeton Popon bilang "legek iki aku melaku soko pintu masuk tekan pos 2 ra leren blas" setalah melihat jam ternyata kurang lebih 2 jam lamanya kami meyusuri jalur Cemoro Sewu. Iki wes cepet loh melakune awak e dewe" kata semeton Popon. Setelah merasa istirahat cukup, kamipun melanjutkan langkah kami untuk menuju pos 3.

Perjalanan pun terus kami lakukan, langkah kami tetap melangkah walau pelan. Suasana makin gelapa dan makin dingin. Hanya suara angin dan gemericik daun-daun cemera yang di tiup sang angin malam. Tanpa pemandangan alam yang menemani pendakian kami. Tak terasa kami pun tiba di Pos 3. Kurang lebih 1 Jam 30 menit kami berjalan dari pos 2 menuju pos 3.

"Leren kene ae sek Mal" kata Semeton Popon. "Iyo wes godok banyu sek gawe kopi karo mie nyambi leren" Timpalku. Kami pun memasak air untuk buat kopi. Tiba2 suasana dini hari itu berubah. Semakin dingin dan gelap. Terdengar suara angin disertai air di atap bangunan Pos 3. Awalnya tiang pikir hanya angin dan air kabut yang jatuh dari daun-daun cemara yang di tiup angin. Ternayata hujan yang turun. Setelah 30 menit hujan pun tak kunjung reda kami pun memutuskan untuk istirahat sambil makan mie instan dan ngopi.

Setelah ngopi dan makan mie kamipun memutuskan untuk bermalam dan menunggu pagi di pos 3. Pagipun tiba, semeton Popon ternyata punya kerjaan yang harus di selesaikan. Tiang pun bilang "yo wes puter balek nek ono gawean" kata tiang. Kami pun memutuskan untuk turun. Tampak wajah penyesalan dari semeton. Popon karena tak dapat mengantarku sampai puncak Gunung Lawu.

Sembari menepuk pundak semeton popon tiang bilang :" Lur mbonten nopo-nopo lek sak iki akh ra tekan puncak, InsyaAllah mben tak baleni ". Kami pun langsung turun dari pos 3 menuju pintu pendakian Cemoro sewu. Tampak jelas memang ada penyeselan dari wajah semeton popon. Dia juga bilang: " ra popo ayo lanjut ae nang puncak, eman mas, samean soko adoh loh, mosok goro2 aku gak sido tekan puncak lawu. Aku loh wes pean kancani tekan Rinjani." Aku hanya tersenyum mendengarnya. Tiang bilang "lur wong lanang iku sing dicekel omongane karo tanggung jawab. Pean wes janjeni pelangganmu, meh ngerampungno gaweanmu. Yo wes aku ra popo, iki mboten kebetulan, pun diatur Gusti Allah."

Tiang sadar betul bagai mana rasanya orang kehilangan kepercayaan dan pekerjaan. Karena dalam hati tiang berkata" Akankah kamu akan mengorbankan temanmu hanya karena ego & ambusimu untuk menggapai puncak? Padahal makhluh Allah yang bernama lawu belum mengizinkanmu mencapai puncak". Dasar itulah yang membuatku tetap memaksa untuk turun. Alhamdulillah kami turun dengan selamat dan semeton popon dapat menyelesaikan pekerjaannya. Sehat selalu dan semoga di lancarkan segala urusanya semeton.

Dari semeton/dulurmu

Akmal Bajang sasak.


#lemaq tesambung maliq.

Tampi Asih, Tabeeeq Walar..!


Komentar