Gema Takbir, tahli dan tahmid telah berkumandang dari
masjid-masjid, di setiap kampung di desa kami. Itu sebagai pertanda romadhan
telah usai di tahun ini. Pagi ini kami menunaikan shalat Idul Fitri, 1 syawal
1443 H. Setelah shalat idul fitri, kami beranjak meninggalkan masjid. Kami
beramai-ramai menyisiri dusun kami,
untuk bersalaman dan memaafkan. Itu kami lakukan untuk menjumpai warga
di dusun kami yang tidak dapat ikut menunaikan shalat Idul fitri. Ini ke biasan
di kampung kami.
Terlihat di jalan dusun kami, ramai orang membawa teko dan
bunga rampai. Seperti biasa pada momen-momen idul fitri sebelumnya. Bagi
keluarga yang sudah di tinggal menghadap pada sang pencipta. Mereka akan ziarah
makam keluarga mereka. Sebelum mereka akan bersilaturahmi kepada sanak family
yang masih hidup.
Aroma bunga rampai yang khas aroma kuburan, layaknya aroma
setelah pemakaman. Penziarah pun melingkar di setiap sisi kuburan keluarga
mereka. Terdengar ada yang membaca surah yasin, ayat-ayat pendek. Seraya mereka
mendo'akan keluarga mereka. Aku pun bersama kk dan ke tiaga ponaanku melakukan
hal yang sama, sama seperti penziarah yang lain.
Ini merupakan ziarah makam pertama bagi di moment lebaran.
Juga merupakan Romadhan serta Idul fitri tanpa ada senyum ibu. Aku pun berfikir
inikah suasana hati yang dirasakan oleh para penziarah-penziarah itu? . Ah
mungkin ini hanya suasana hatiku saja. Tapi ini nyata ku alami dalam
perasaanku.
Akupun pulang lalu masuk kedalam kamar. Aku terdiam
memandangi tumpuakan buku di atas meja. Ku tak tau kenapa air mataku menetes.
Tak terasa tampak makin jelas dalam pikiranku, suasana di kuburan tadi.
Ternyata hidup ini hanya perkara menunggu giliran di jemput malaikat jibril.
Berarti dengan berziarah kubur semata hanya untuk mengingatkan kita menuju
kematian..
Komentar
Posting Komentar