Cupak dan Panggung Pertunjukan

Cupak Gerantang adalah cerita panji yang berkembang Pulau Lombok. Cupak dan gurantang adalah dua orang yang sangat berbeda. Cupak seorang kakak berperawakan tambun dan tinggi besar, licik, rakus, pendengki, suka berbohong dan mencuri menjadi sifatnya. Wajahnya pun jelek dan seram, tutur katanya kasar dan tidak sopan. Gerantang seorang adik berperawakan tegap namun luwes, tutur katanya halus dan sopan, berwajah tampan nan gagah, baik, jujur dan pemaaf menjadi sifatnya. Kedua tokoh ini menggambarkan tentang sifat anak manusia di bumi ini. Namun cukup disayangkan, diera modeenisasi saat ini sulit menyaksikan pementasannya. Seolah para seniman teater tradisi Cupak-Gurangtang kehilangan panggung. Dizaman anak muda saat ini bahkan tak tau tentang Teater Cupak-Gerantang. Satu per satu para seniman Cupak Gerantang mulai dipanggil sang Pencipta. Panggung-panggung pertunjukan mereka pun ikut menghilang menyertai para senimannya. Namun bagi penulis yang semasa usia anak-anak hingga masa remaja, pernah menjadi saksi pertunjukan Cupak-Gerantang. Di sini penulis merasa bahwa Cupak-gerantang masih dipertunjukan dihadapan masyarakat. Hanya saja pada panggung yang lebih megah. Sanggar Bernama partai, lembaga, Pemerintahan, Kantor Dinas. Itulaha panggung-panggung cupak di zaman ini. Cupak-cupak itu ditopengi dengan topeng oknum. Bagaimana tidak, Cupak dan gurantang sejatinya ditujunkan sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan. Di mana kita hendaknya mengikuti dan mencontoh prilaku tokoh Gerantang dalam menjalani kehidupan di panggung bumi ini. Bukan malah mencontoh dan mempraktikan prilaku cupak, yang memgambarakan prilaku buruk dalam kehidupan. Sayangnya yang meniru prilaku cupak adalah merek-mereka yang katanya berpendidikan. Bahkan mereka yang selalu berbuat atas nama masyarakat. Tapi apa yang mau kita bilang itulah kehidupan. Tak lepas dari baik dan buruk dari kahlifah bumi yang bernama manusia. Selamat menyaksikan Pertunjukan Cupak Gerangtang dalam panggung Pertunjukan Demokarasi dalam Lembaga. Bijaklah dalam menilai dan berbuat. Catatan ini hannya sebagai pengingat untuk diri penulis yang fakir ilmu. Salam Lombok Sasak Mirah Adi

Komentar