Lelaki di Balik Gelap Malam


Di ujung malam yang basah, di antara rintik hujan yang jatuh seperti zikir langit, seoranglelaki berdiri diam bimbang antara langkah dan diamnya takdir.

Bayang bayangnya memanjang di tanah becek yang menyimpan jejak ragu, ia bukan tak ingin pulang, hanya lupa arah mana yang menuju terang.

Angin melinting pelan, membawa suara masa silam dari dusun tua di mana biduri pernah mengalirkan madu, dan ibunya mengajari  "angen dek kunci dalem, selamet dek pande ngemalu". 

( hati dijaga dari dalam atau pikiran (niat) dikendalikan dari hati, selamat karena pandai merasa malu (tahu malu).

Tapi kini, malam terlalu sunyi, dan hatinya seperti sampan tanpa dayung terombang di lautan gulita di mana dunia tak lagi tampak selain bayang-bayang nafsu yang dibungkus syahwat.

Di bawah payung langit yang berlinang, lelaki itu menengadah, mencari makna pada setiap tetes hujan seperti memungut ayat yang tercecer dari kitab kehidupan.

“Ya Rabb, engkau dekat seperti napas, tapi mengapa aku merasa jauh seperti debu di kaki-Mu?” bisiknya lirih, penuh luka, penuh pinta.

Ia bukan pemabuk dunia, hanya musafir yang lupa arah kiblat jiwa.

Dalam benaknya terngiang kembali ajaran Tuan Guru di kampung.
"Idup ndek berisi iling, mate ndek mate te-eling." 

(Hidup tak berisi ingat, mati tak mati dalam ingat.)

Dan di sana, di balik gelap malam dan kabut sepi, lelaki itu perlahan bersujud,
bukan karena takut, tapi karena rindu. Rindu pada-Nya yang diam-diam mencintai
tanpa pamrih, tanpa jeda.

Titimangsa: 

Julun Bale, 07 Juni 2025

Komentar