Di antara ladang-sawah yang lelap, dan pohon kelapa yang berdzikir diam, sekumpulan pemuda duduk bersila, di bawah cahaya lampu dan langit penuh rahmat.
Mereka meneguk tuak dari tempayan tua, bukan dalam mabuk, tapi dalam pertanyaan.
“Apa hakikat dari warisan ini?” tanya yang Ki Dalang, menatap gelas di tangan, sementara malam membawa harum tanah basah dan ayat-ayat alam yang bergulir dalam angin.
Gambelan berdenting lirih dari sebuah speaker aktif tua, seperti zikir yang belum selesai dilafazkan. Mereka berbicara, bukan hanya pada sesama, tapi pada bumi dan langit yang mengintip dari celah awan. Obrolan mereka menjelma puisi, tentang Adam yang diturunkan ke bumi, dan anak cucunya yang mencari arah di tengah perjamuan dan bisikan hati.
“Sungguh, kami mencintai kebersamaan ini,” kata yang termuda, “tapi adakah cahaya dalam cawan ini, atau hanya bayangan?”
Lalu sunyi menyela. Di sana, dalam diam yang khusyuk, mereka mendengar sesuatu yang lebih jernih dari bunyi tuak yang dituangkan, suara hati, yang memanggil pulang kepada-Nya.
Seseorang mengutip ayat,
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adh-Dhariyat: 20–21)
Angin malam berhembus pelan, menghapus batas antara warisan dan kesadaran. Tuak tak lagi ditenggak dengan tawa, melainkan ditatap dengan tanya: Apa yang kita warisi, dan apa yang harus kita tinggalkan?
Di ujung lingkaran, seorang dari mereka membuka kitab kecil, bukan naskah lontar, tapi mushaf yang telah lapuk di sisi. Ia membaca, dengan suara gemetar namun jernih, seolah langit turut menyimak.
"Tunjukilah kami jalan yang lurus..."
Malam pun larut dalam cahaya yang tak berasal dari api, melainkan dari hati-hati yang rindu akan kebenaran yang sejati.
Titimangsa,
Jati Suware Rabu 04 Juni 2025
Komentar
Posting Komentar