---
Di bawah bayang Gunung Rinjani, tempat angin menyulam kabut di dahan-dahan beringin tua, terdengarlah senandung dari naskah yang tua—lontar Sasak, diwarisi dari leluhur yang menjahit waktu dengan benang sabar dan tinta wangsit.
"Inaq sinarèng kanginé, jari bayu sinanding langit; tanèn ngilo tanèn idup, adek raga tan sèruwèh."
[ Ibu bersahabat angin, jadilah bayu penyangga langit; jangan hanya melihat dan hidup, jadilah raga tanpa beban ]
Di tengah belantara yang menari dengan nyanyian belalang, jiwa seorang pengelana termenung di antara ilalang. Langkahnya lelah, tapi hatinya lebih rapuh, seperti daun lontar yang menguning tanpa sempat dibaca. Ia mencari bayangan diri dalam bening Danau Segara Anak, namun yang terlihat hanya riak-riak dari dosa yang belum sempat ditebus, dan kata-kata yang hilang ditelan sunyi malam.
"Némpak bayang, nyilih urip, sangkan paran tan temu, bebait ajaran semeton, tusing siaq, tusing lempaq."
[ Menatap bayang, meminjam hidup, asal-usul tak ditemukan, petuah saudara sejiwa, jangan sombong, jangan ceroboh ]
Angin berbisik di antara celah batu cadas. Tiang-tiang langit telah tua, dan pohon-pohon tua lelah menadah duka. Adakah manusia masih ingat caranya mendengar suara alam yang bukan sekadar hening?"
Jiwa itu—perlahan duduk bersila di atas hamparan rumput yang masih basah oleh embun doa para leluhur. Ia menunduk, lalu menadah. Dalam diam, ia menulis kembali dirinya pada lembar-lembar hati dengan aksara lontar yang nyaris punah.
"Lako urip mulih sangkan, endi nyawané, endi galangné? Kelingan anak sasak, langit ngidih tangkismu."
[ Berjalan hidup kembali ke asal, mana nyawamu, mana keberanianmu? Ingatlah anak Sasak, langit meminta perisaimu ].
—
Titimangsa,
JatiSuware, 04 Juni 2025
Catatan:
Pilihan diksi dalam puisi ini terinspirasi dari gaya bahasa dalam naskah lontar Sasak yang menggunakan metafora alam, nilai-nilai spiritualitas lokal, serta kearifan hidup tradisional. Beberapa bait di atas merupakan adaptasi dan penggubahan dari struktur kalimat Sasak klasik, bukan kutipan literal dari lontar tertentu, namun setia pada semangatnya.
Komentar
Posting Komentar